Kamis, 13 Agustus 2009

Sebuah Ruangan

Antara sadar dan tidak, saya menemukan diri saya di sebuah ruangan. Tidak ada ciri-ciri yang membedakan kecuali sebuah tembok yang ditutupi dengan arsip berisi kartu-kartu indeks kecil.

Kartu-kartu tersebut seperti yang ada di perpustakaan, berisi judul buku berdasarkan nama pengarang atau tema dalam urutan abjad. Tetapi arsip-arsip tersebut, yang terbentang dari Rata Penuhlantai sampai langit-langit dan tampaknya tak berakhir dari segala arah, memiliki judul yang sangat berbeda. Ketika saya mendekati tembok arsip tersebut, arsip pertama yang menarik perhatian saya adalah arsip yang berjudul “Gadis-gadis yang pernah aku sukai”. Saya membukanya dan memulai membolak-balik kartu-kartu tersebut. Saya cepat-cepat menutup kartu itu, terkejut karena menyadari bahwa saya mengenal nama-nama yang tertulis pada tiap kartu tersebut.

Kemudian tanpa diberi tahu, saya tahu persis di mana saya berada. Ruangan tanpa kehidupan dengan arsip-arsip kecilnya adalah sebuah sistem katalog sederhana dari kehidupan saya. Di sana tertulis setiap tindakan saya setiap saat, baik besar maupun kecil, dalam rincian yang tidak dapat ditandingi dengan daya ingat saya.

Suatu perasaan kagum dan ingin tahu, disertai dengan ketakutan yang berkecamuk di dalam diri saya ketika saya mulai membuka arsip-arsip itu secara acak dan menyelidiki isinya. Beberapa membawa kenangan manis dan sukacita; yang lain memalukan dan saya sesali sehingga saya akan melihat melalui pundak saya apakah seseorang sedang memperhatikan saya. Sebuah arsip bertuliskan “Teman-teman” bersebelahan dengan arsip berjudul “Teman-teman yang telah kukhianati”.

Judul arsip-arsip tersebut bervariasi mulai dari yang biasa sampai yang aneh sama sekali: “Buku-buku yang pernah aku baca”, “Kebohongan-kebohongan yang pernah aku buat”, “Penghiburan yang pernah kuberikan”, “Lelucon-lelucon yang pernah kutertawakan”. Beberapa sangat tepat: “Cemoohan yang pernah kusampaikan kepada saudara-saudaraku”. Yang lain yang tidak dapat saya tertawakan: “Hal-hal yang telah kulakukan dalam kemarahan”, “Gerutuan yang pernah kusampaikan kepada orang tuaku”. Saya tidak pernah tidak terkejut melihat isinya. Seringkali ada lebih banyak kartu daripada yang saya perkirakan. Kadangkala ada lebih sedikit kartu daripada yang saya harapkan.

Saya diliputi oleh volume kehidupan yang telah saya jalani. Mungkinkah saya memiliki waktu di usia saya yang 20 tahun ini untuk menuliskan tiap-tiap kartu yang jumlahnya bisa ribuan, atau bahkan jutaan ini? Tetapi setiap kartu menegaskan kebenaran ini. Masing-masing kartu bertuliskan tulisan tangan saya sendiri. Dan setiap kartu saya tandatangani.
Ketika saya sampai pada sebuah arsip berjudul “Pemikiran-pemikiran yang didorong oleh hawa nafsu”, saya merasakan tubuh saya dingin. Saya menarik keluar arsip itu hanya satu inci, tidak berminat untuk menyelidiki besarnya, dan menarik sebuah kartu. Saya merasa jijik melihat isinya secara terperinci. Saya kesal memikirkan saat seperti itu juga tercatat.

Tiba-tiba saya merasakan suatu kemarahan seperti seekor binatang. Satu pikiran mendominasi otak saya: “Tidak ada seorangpun yang boleh melihat kartu-kartu ini. Tidak ada satu orangpun yang akan pernah melihat ruangan ini! Aku harus menghancurkan semuanya!” Dengan pikiran kalang kabut itu saya merenggut keluar arsip tersebut. Sekarang ukurannya tidak menjadi masalah. Saya harus mengosongkannya dan membakar kartu-kartu tersebut. Tetapi ketika saya mengambil arsip itu dan memukul-mukulkannya ke lantai, saya tidak dapat mencabut satu kartu pun. Saya menjadi putus asa dan menarik keluar sebuah kartu, hanya untuk menemukan bahwa kartu itu sekuat baja ketika saya berusaha untuk merobeknya.

Merasa kalah dan benar-benar putus asa, saya mengembalikan arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan dahi saya ke tembok, saya mengeluarkan keluhan panjang mengasihani diri sendiri. Dan kemudian saya melihat sebuah arsip lain. Judul arsip itu adalah “Orang-orang yang pernah saya ceritakan tentang Injil”. Pegangannya lebih terang daripada yang ada di dekatnya, lebih baru hampir tidak pernah digunakan. Saya menarik pegangan itu dan sebuah kotak kecil yang tidak lebih dari delapan sentimeter panjangnya jatuh ke dalam tangan saya. Saya bisa menghitung kartu-kartu yang ada di sebelah tangan saya.

Kemudian air mata pun mengalir. Saya mulai menangis. Saya terisak begitu hebat sampai rasa sakitnya terasa di perut saya dan mengguncangkan saya. Saya jatuh berlutut dan menangis. Saya berteriak karena malu, sangat malu. Baris-baris rak arsip itu berputar-putar dalam pandangan saya yang dipenuhi air mata. Tidak ada satu orangpun yang boleh mengetahui ruangan ini. Saya harus menguncinya dan menyembunyikan kuncinya.

Tetapi kemudian saat saya menyeka air mata saya, saya melihat Dia. Tidak, tolong, jangan Dia. Tidak di sini. Siapapun boleh kecuali YESUS.

Saya memperhatikan dengan pasrah ketika Ia mulai membuka arsip-arsip dan membaca kartu-kartu di dalamnya. Saya tidak tahan melihat respon-Nya. Di saat saya memberanikan diri memandang wajah-Nya, saya melihat suatu kesedihan yang lebih dalam daripada kesedihan saya. Seperti dibimbing oleh intuisi-Nya, Ia berjalan menuju kotak-kotak yang paling buruk. Mengapa Ia harus membaca setiap arsip?

Akhirnya Ia berpaling dan memandang saya dari seberang ruangan. Ia memandang saya dengan belas kasihan di mataNya. Tetapi bukan kemarahan. Saya menjatuhkan kepala saya, menutupi muka saya dengan tangan, dan mulai menangis lagi. Ia menghampiri saya dan merangkul saya. Bisa saja Ia mengatakan begitu banyak hal. Tetapi Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menangis bersama saya.

Kemudian Ia bangkit dan berjalan kembali ke dinding arsip tersebut. Dimulai dari ujung ruangan yang satu, Ia mengeluarkan sebuah arsip dan satu demi satu, Ia menuliskan namaNya di atas nama saya pada setiap kartu.

“Tidak!” saya berteriak, buru-buru menghampiri Dia. Yang dapat saya katakan hanyalah “Tidak, tidak,” ketika saya menarik kartu dariNya. NamaNya tidak seharusnya ada di kartu-kartu ini. Tetapi nama itu telah tertera, ditulisnya begitu nyata dan jelas dengan tinta merah. Nama Yesus menutupi nama saya. Nama itu ditulis dengan darahNya.

Dengan lembut Ia mengembalikan kartu itu. Ia memberikan senyum kesedihan dan melanjutkan untuk menandatangani kartu-kartu itu. Saya tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia dapat melakukannya secepat itu, tetapi hal cepat berikutnya adalah saya melihat Ia sudah berada di arsip terakhir dan kembali di sisi saya. Ia meletakkan tanganNya ke atas pundak saya dan berkata, “Sudah selesai”.

Saya berdiri dan Ia menuntun saya keluar dari ruangan. Tidak ada kunci pada pintu itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis.

Sumber: Buku “I Kissed Dating Goodbye” – Joshua Harris (page 98-100)


Dari cerita di atas, mari kita renungkan sejenak bagaimana kita mempergunakan waktu hari-hari ini dan bagaimana kelakuan hidup kita? Setiap perkataan dan perbuatan sekecil apapun itu, sepintar apapun kita menyembunyikannya dari orang lain, semuanya itu akan tercatat secara detail dan lengkap di buku kehidupan. Pada waktu penghakiman nanti, semuanya itu harus kita pertanggung-jawabkan seluruhnya di hadapan Allah Bapa yang Maha Kuasa. Pernahkah terpikirkan bagaimana cara kita mempertanggungjawabkan semuanya itu kelak?

Mungkin terkadang kita merasa bimbang, jalan seperti apakah yang harus diambil. Di satu sisi, sebagai orang percaya tentunya kita memiliki Roh Kudus yang akan selalu memperingatkan kita apabila kita mulai salah jalur, mulai bermain-main dengan dosa. Namun di sisi lain, di dalam pergaulan dengan teman-teman, mungkin terkadang kita merasa takut di-cap sebagai ‘orang yang sok suci’ dan dijauhi oleh teman-teman karena kita menaati kebenaran Firman Tuhan.

Satu hal yang harus selalu diingat bahwa ketika hari penghakiman nanti, yang harus mempertanggungjawabkan semuanya adalah DIRI SENDIRI (secara pribadi). Kita tidak dapat berkata “Tuhan, aku melakukannya karena orang itu yang menyuruh aku berbuat demikian, orang itu yang mengajar dan menghasut aku. Jadi salahkanlah dia, ini bukan salahku”. Sama seperti yang dilakukan oleh Adam yang menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular ketika Tuhan meminta pertanggung jawaban mereka (Kejadian 3:12-13). Tetapi apa yang sudah Adam dan Hawa lakukan tetap harus dipertanggungjawabkan meskipun Tuhan juga menghukum ular yang menghasut mereka (Kejadian 3: 14-19).

Teman-teman yang mencemooh kita tidak akan bisa menyelamatkan kita. Akan tetapi, Tuhan Yesus sudah membuktikan kasihNya kepada kita melalui pengorbananNya di atas kayu salib. Semua dosa kita telah ditebus dan dibayar lunas oleh Darah Anak Domba. Pernahkah Tuhan mengecewakan kita? Sekalipun TIDAK PERNAH, bahkan Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Semua telah Yesus berikan untuk kita, termasuk nyawaNya sendiri, namun seberapa seringkah kita melukai hati Tuhan dan membuat Dia menangis karena perbuatan kita? Bukankah sungguh kita adalah orang yang sangat kejam dan bodoh?

Ada sebuah kabar baik bagi kita semua. Tuhan selalu menanti kita kembali lagi, Dia tidak pernah mengharapkan kita semua binasa. Tuhan selalu menanti kita kembali lagi dengan tangan terbuka sama seperti pada perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15: 11-32). Bahkan lebih dari sekedar menerima kita dengan tangan terbuka, tetapi seisi surga akan bersukacita dan berpesta ria untuk merayakannya (Lukas 15: 7). Namun jangan pernah menunda-nunda waktu untuk kembali kepada Tuhan Yesus karena kita tidak pernah tau kapan usia kita akan berakhir. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan itu karena jantung dan nafas kita telah berhenti.

Syaratnya apa untuk kembali lagi kepada Bapa? Cukup MENGAKUI dosa kita (1 Yohanes 1:9) dan BERTOBAT. Bertobat artinya meninggalkan dosa-dosa kita secara total dan permanen, bukan hanya setengah-setengah atau sebagian saja. Maukah kita memberikan SELURUH ruangan di hati kita untuk dibersihkan, dipenuhi dan dikuasai oleh Tuhan Yesus?

Setelah kita menerima keselamatan ini, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka juga menerima kado istimewa ini? Jangan jadi orang yang egois, yang hanya menikmati hadiah keselamatan itu sendirian saja.

KESELAMATAN TERSEDIA BAGI SETIAP ORANG, TANPA TERKECUALI. TUHAN YESUS MENGASIHI SAUDARA DAN SAYA DENGAN KASIH YANG SAMA DAN KASIHNYA TIDAK PERNAH BERUBAH DARI DULU, SEKARANG, DAN SELAMANYA.

Efesus 5: 15-16
“Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”




1 komentar:

  1. wahh mantepzzz wen...

    crita di atass...

    pantess gw rasa nah pernah baca deh...

    dan yang lu blg bener tuh... tentang dosa yang harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan...

    BalasHapus

gen-x